Melepaskan Diri dari Belenggu Duniawi

Secara tidak sadar, seorang manusia baik sebagai individu atau pun kelompok, tentu memiliki keterikatan yang kuat dengan hal-hal yang ada di dunia ini. Sesuatu yang normal memang, terlebih jika kita menelaah fenomena itu dari kacamata manusia seutuhnya. Namun, apa sih pandangan Islam terhadap belenggu duniawi? Bukankah keterikatan tersebut hanya akan membuat kita tutup mata akan kehidupan setelah kematian?

Keterikatan Manusia dengan Kehidupan

Potret keterikatan manusia dengan kehidupan dunia telah terjadi di mana-mana. Mari kita ambil contoh sebagai berikut; ada satu influencer muda yang bisa dengan mudah meraup keuntungan sebesar-besarnya dari bisnis besar bertopeng “UMKM” yang ia dirikan, ketika di sisi lain, buruh, kru, atau karyawan yang bekerja di bawahnya hanya diberi upah seadanya (bahkan di bawah garis upah minimum).

Itulah bagaimana roda kapitalis bekerja. Satu semakin kaya, satu semakin miskin. Mau bagaimana pun buruh bekerja dengan giat, ia tidak akan pernah bisa hidup dengan layak jika kondisi ekonomi negara dan upah yang didapat tidak selaras. Walhasil muncul-lah pahlawan usang yang hadir bak messiah, membagi-bagikan bantuan sosial (bansos), seakan yang dilakukannya di mata dunia adalah benar – menghapus kemiskinan.

Nyatanya, hal itu hanya akan membuat mayoritas kelas menengah ke bawah menggantungkan dirinya pada sosok messiah tersebut, berharap akan ada bansos-bansos lainnya yang datang, baik berupa uang tunai atau sembako. Itulah cara bagaimana mereka membelenggu manusia dengan hal-hal materialis yang sifatnya duniawi.

Penegasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang eksistensi kehidupan dunia, yang dilambangkan dengan kata la’ibun dan lahwun (permainan dan sanda gurau) merupakan peringatan bahwa kehidupan dunia itu tidak akan berlangsung lama (Irsyadunnas, 2005). Menurut Hamka, pada Tafsir al-Azhar (1986), dalam konteks ini, ada dua istilah yang harus dibedakan, yaitu hidup di dunia, dan hidup keduniawian.

Hidup di Dunia dan Hidup Keduniawian

Hidup di dunia merupakan suatu kenyataan. Oleh karena itu, manusia diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengisi kehidupan di dunia ini dengan amal soleh. Berbeda dengan hidup keduniawian, yaitu, hidup yang mengorbankan segala-galanya hanya untuk dunia saja. Ia tidak mengenal kata mati. Ia hanya terjebak dalam belenggu tersebut, bersama sosok-sosok yang ia pikir juru selamat – melebihi Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” QS Ali ‘Imran: 14

Cara Melepaskan Belenggu Duniawi

Lalu bagaimana kita bisa melepaskan belenggu duniawi? Pertama-tama kita harus memahami bahwa Al Quran sebagai sumber utama ajaran Islam, memiliki penyelesaian atas segala masalah, termasuk belenggu dunia. Al Quran memandang kehidupan dunia sebagai hal yang wajar dan realistis, sesuai dengan fitrah manusia.

Contohnya, manusia memerlukan makan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak. Bagaimana hal tersebut didapat? Di era modern ini, tentu dengan bekerja. Dari bekerja, dihasilkanlah uang untuk mendapatkan semua kebutuhan tadi. Mengapa Al Quran memandang demikian? Karena tanpa dilengkapi dengan hal-hal seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak, maka sukarlah bagi manusia untuk mengembangkan potensi rohani dan intelektualnya.

Maka dari itu, pelepasan diri dari belenggu duniawi harus dilakukan secara serentak baik oleh kelas menengah maupun kelas menengah ke bawah. Mengapa saya tidak menyebutkan kelas menengah atas? Karena, kelas menengah atas telah menjadi bagian dari patron – yaitu, seseorang atau entitas yang memiliki kekuasaan atau pengaruh dalam suatu kelompok masyarakat.

Patron tidak termasuk dalam bagian dari perjuangan kita bersama. Justru ialah yang membuat kita harus berjuang. Patron dalam contoh yang saya berikan tadi adalah sang pemilik UMKM, atau setidaknya bisnis besar yang diberi dalih “UMKM”. Alih-alih melakukan industrialisasi, negara ini lebih suka meromantisasi pola bisnis UMKM yang membuat kita sangat bergantung – baik pada owner nya, maupun uang yang dihasilkan darinya.

Kita juga harus melepaskan diri dari kebergantungan terhadap sang messiah. Karena sejatinya rakyat yang makmur tidak lah timbul dari Bansos yang diberikan oleh messiah – melainkan kita lah yang harus merebut kemakmuran itu darinya. Bagaimana caranya? Dengan membuat messiah tersebut tidak eksis. Ya, berhenti lah menggantungkan diri pada para patron dan messiah. Niscaya kita akan bisa memandang hidup ini lebih luas.

Mulailah membangun jejaring antar warga, karena sejatinya warga bisa lebih mandiri dari apa yang kita kira. Bangun ekonomi mandiri, koperasi, dan majelis yang membahas hal-hal seputar politik, ekonomi, sosial, dan agama. Karena semua isu tersebut sangatlah bersinggungan dan patut untuk kita ketahui sebagai seorang Muslim.

Hidup di Dunia, Tidak Lupa Akhirat

Terakhir, konsekuensi dari kehidupan dunia dalam pandangan Al Quran mewajibkan manusia untuk menjalani kehidupan ini secara realistis. Manusia wajib memaksimalkan potensi dirinya dalam melaksanakan berbagai aktivitas kehidupan, seperti bekerja, berusaha, dan berkreativitas. Manusia juga harus INGAT bahwa ada kehidupan lain selain di dunia, yaitu akhirat.

Maka, semakin kita melepaskan kebergantungan kita terhadap para patron, messiah, dan segala macam tektek bengeknya, semakin leluasa pula kita bergerak dan melangkah. Tak sekadar menunggu Bansos datang, atau tak sekadar menunggu surat suara dihitung. Karena sejatinya, rakyat/umatlah yang berhak mengatur dan menyelesaikan masalah hidupnya sendiri – baik di dunia, maupun di akhirat, tentunya melalui pedoman-pedoman Al Quran.

Wallahu a’lam bishawab

Opini Ditulis Oleh:

Rizky Mardiyansyah

(Copywriter & SEO Content Writer Wakaf Salman)

Leave a Comment